Aku
mencari dan berlari untuk menemukan tujuanku. Semakin aku berlari semakin aku
ragu akan tujuanku. Hinnga aku masih berfikir masihkah aku terus berlari?
Ketika aku berlari aku takut aku melewati apa yang aku tuju. Dan aku takut
kehilahan Arahku untuk kembali karena aku terlalu jauh melewatinya.
Aku
berusaha menemukan tujuan hidupku ada didunia ini. Pernah mendengar “Aku hidup
hanya untuk menyembahNya” ya benar itu tak salah. Namun aku semakin tumbuh dan
dewasa aku harus bekerja untuk menjalani hidup, berarti waktuku telah terbagi
tak hanya untuk menyembahNya.
Maksud
dari pernyataan tersebut bukan berarti aku menduakan atau mengabaikan kewajibanku
sebagai MakhlukNya, namun aku hanya menjalani titah kehidupan ini. Aku mengerti dari hal tersebut bahwa hidup
ini hanya untukNya. Namun tak kumunafikkan lagi bahwa aku harus mengarungi hari-hariku
dengan membagi waktu. Haruskah aku memunafikkan diri ini?.
Aku
menjalani kehidupan ini untuk memperoleh tujuanku. Tujuankku? Tujuanku adalah
“Kebahagiaan dunia dan Akhirat” . untuk mencapainya aku harus melaksanakan
kewajibanku. Namun aku bingung dengan Aku sendiri, bukankah kebahagiaaan itu
seperti Travelling yang sering aku jalani di dunia ini.
Travelling?
Sesempit itukah pemikiran aku? Oke mainkan logikaku. Traveling itu menurutku
sebagai kebahagiaan Dunia. Pasti aku akan dikatakan pembelaan seorang Penggila
kenikmatan dunia, sudah biarkan mereka bicara, inilah aku. Ya Aku penikmat
dunia ini. Traveling adalah kebahagiaanku, namun sebelum travelling apa yang
aku butuhkan, yang aku butuhkan adalah biaya.
Dari situ aku gabungngkan antara kebahagiaan dunia dan Akhiratku. Jika
dunia aku membutuhkan biaya dan jika akhirat apa yang aku butuhkan? Yaitu pahala.
That’s right.
Kebahagiaan
dunia (biaya) aku penuhi dengan bekerja dan kebahagiaan akhirat(pahala) aku
penuhi dengan Ibadah, ibadah dan Ibadah.
Masuk pada inti dan tujuanku tentang Kewajiban, Ibadah dan Pahala. Ketiganya saling keterkaitan. Dan bagaimana halnya aku memenuhinya untuk
saling mengaitkan dan menjalin dalam satu kesatuan hingga menuju tujuan utama,
Kebahagiaan dunia dan akhirat.
Satu
hal yan masih aku sedihkan dan aku tak mengerti. Haruskah aku sebagai
makhlukNya, MenyembahNya, Segala sesuatu untukNya, Apapun untukNya harus aku peroleh
pahala itu dengan keegoisanku? Mungkin ya benar masa nanti aku yang tentukan
sendiri dalam apa yang ku perbuat. Tetapi haruskah aku bersikap egois mencari
pahala itu?
Egois?
Ya karena aku menggebu ingin mendapatkan pahala itu sebagai biaya aku untuk
kebahagiaan akhirat aku harus bersikap egois.
Mana yang aku anggap egois? Egois ketika aku lakukan ibadah sunnah tidak
pada saat yang tepat. Egois saat tilawah dengan meninggalkan kewajiban.
Mungkin
masih bingung mereka mengerti aku. Tetapi aku mengerti apa yang aku lakukan ini
adalah keegoisan. Aku meninggalkan kewajibanku dan aku mengejar terus pahala
itu yang belum aku tahu tentu apakah mendapatkan yang aku inginkan atau sia-sia karena sesungguhnya
aku malah meninggalkan kewajibanku untuk mereka yang harus aku layani sesuai
janjiku dan sumpahku.
Aku
sesungguhnya tahu hadiahku adalah surga, namun bagaimana aku bisa
mempertahankan surga itu. Karena Tuhan sesungguhnya menciptakan aku dalam
kebaikan. Ketika aku tetap baik aku mampu bertahan akan surgaku namun ketika
aku lengah aku akan mendapat hadiah yang lain.
Surat Al Baqarah ayat 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(١٤٨)
Artinya :
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al-Baqarah : 148 )
Aku
tidak harus mencari pahalaku dengan mengorbankan kepentingan dan kewajibanku.
Namun hanya aku kan mengertikan aku bahwa aku diciptakan disini untuk
fastabiqul
khoirat . Dan itu ku peroleh
dengan membahagiakan sesama. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang di
ajarkan kembali dengan baik? Bukankah pahala yang berarti itu adalah pahala
yang bisa bermanfaat untuk orang lain?
Seperti
halnya Imam dan makmum dalam sholat jamaah, mereka takkan dapat pahala lebih
dalam sholat jika takdilakukan bersama. I remember if Sholah Jamaah, Twenty
Seventh degree better than by self. Dan Seperti halnya para ulama dan ustadz ia
takkan memperoleh pahala dan manfaat jika tauziah dan pengajiannya tidak ada majelis.
Seperti itulah aku dilahirkan untuk mencari pahala yang mampu bermanfaat bagi
orang lain, bagi sesama makhluk ciptaanNya.
Bukan hanya memperkaya (pahala) diri sendiri dengan Tilawah dijam kerja,
sholat sunah dijam kerja sedangkan aku ditunggu kewajibanku.
Jikalau
aku memperkaya(pahala) itu namun merugikan orang lain, menghambat rezeki dan
jalan kebaikan orang lain, menunda pekerjaan dimana itu pekerjaan fatal untuk
orang lain, Apakah aku yakin semua itu akan ada balasan yang sesuai? Ingat
hidup ini untuk menemukan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Lantas AKu fikirkan
ketika aku egois dan aku di Surga yang Tuhan janjikan namun aku sendirian. I am
feel Alone. Tak tahu lagi aku mengartikan itu sebuah kebahagiaan atau hukuman
keegoisanku.
Egoisku
dalam Ibadahku
Jakarta,
2 Juni 2015


2 komentar:
galau ngopo cah...?
@Dihas Enrico: gak papa mas... lg belajar saja memahami sekitar mas...
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat