RSS

Friends

Pengalaman adalah sebuah Pelajaran berharga yang akan
diceritakan menjadi sebuah kenangan Indah

Tujuanku Di Dunia ini


Aku mencari dan berlari untuk menemukan tujuanku. Semakin aku berlari semakin aku ragu akan tujuanku. Hinnga aku masih berfikir masihkah aku terus berlari? Ketika aku berlari aku takut aku melewati apa yang aku tuju. Dan aku takut kehilahan Arahku untuk kembali karena aku terlalu jauh melewatinya.


Aku berusaha menemukan tujuan hidupku ada didunia ini. Pernah mendengar “Aku hidup hanya untuk menyembahNya” ya benar itu tak salah. Namun aku semakin tumbuh dan dewasa aku harus bekerja untuk menjalani hidup, berarti waktuku telah terbagi tak hanya untuk menyembahNya.

Maksud dari pernyataan tersebut bukan berarti aku menduakan atau mengabaikan kewajibanku sebagai MakhlukNya, namun aku hanya menjalani titah kehidupan ini.  Aku mengerti dari hal tersebut bahwa hidup ini hanya untukNya. Namun tak kumunafikkan lagi bahwa aku harus mengarungi hari-hariku dengan membagi waktu. Haruskah aku memunafikkan diri ini?.

Aku menjalani kehidupan ini untuk memperoleh tujuanku. Tujuankku? Tujuanku adalah “Kebahagiaan dunia dan Akhirat” . untuk mencapainya aku harus melaksanakan kewajibanku. Namun aku bingung dengan Aku sendiri, bukankah kebahagiaaan itu seperti Travelling yang sering aku jalani di dunia ini.

Travelling? Sesempit itukah pemikiran aku? Oke mainkan logikaku. Traveling itu menurutku sebagai kebahagiaan Dunia. Pasti aku akan dikatakan pembelaan seorang Penggila kenikmatan dunia, sudah biarkan mereka bicara, inilah aku. Ya Aku penikmat dunia ini. Traveling adalah kebahagiaanku, namun sebelum travelling apa yang aku butuhkan, yang aku butuhkan adalah biaya.  Dari situ aku gabungngkan antara kebahagiaan dunia dan Akhiratku. Jika dunia aku membutuhkan biaya dan jika akhirat apa yang aku butuhkan? Yaitu pahala. That’s right.

Kebahagiaan dunia (biaya) aku penuhi dengan bekerja dan kebahagiaan akhirat(pahala) aku penuhi dengan Ibadah, ibadah dan Ibadah.  Masuk pada inti dan tujuanku tentang Kewajiban, Ibadah dan Pahala.  Ketiganya saling keterkaitan.  Dan bagaimana halnya aku memenuhinya untuk saling mengaitkan dan menjalin dalam satu kesatuan hingga menuju tujuan utama, Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Satu hal yan masih aku sedihkan dan aku tak mengerti. Haruskah aku sebagai makhlukNya, MenyembahNya, Segala sesuatu untukNya, Apapun untukNya harus aku peroleh pahala itu dengan keegoisanku? Mungkin ya benar masa nanti aku yang tentukan sendiri dalam apa yang ku perbuat. Tetapi haruskah aku bersikap egois mencari pahala itu?
Egois? Ya karena aku menggebu ingin mendapatkan pahala itu sebagai biaya aku untuk kebahagiaan akhirat aku harus bersikap egois.  Mana yang aku anggap egois? Egois ketika aku lakukan ibadah sunnah tidak pada saat yang tepat. Egois saat tilawah dengan meninggalkan kewajiban.

Mungkin masih bingung mereka mengerti aku. Tetapi aku mengerti apa yang aku lakukan ini adalah keegoisan. Aku meninggalkan kewajibanku dan aku mengejar terus pahala itu yang belum aku tahu tentu apakah mendapatkan yang  aku inginkan atau sia-sia karena sesungguhnya aku malah meninggalkan kewajibanku untuk mereka yang harus aku layani sesuai janjiku dan sumpahku.

Aku sesungguhnya tahu hadiahku adalah surga, namun bagaimana aku bisa mempertahankan surga itu. Karena Tuhan sesungguhnya menciptakan aku dalam kebaikan. Ketika aku tetap baik aku mampu bertahan akan surgaku namun ketika aku lengah aku akan mendapat hadiah yang lain.

Surat Al Baqarah ayat 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى  كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 
(١٤٨)
Artinya :
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al-Baqarah : 148 )


Aku tidak harus mencari pahalaku dengan mengorbankan kepentingan dan kewajibanku. Namun hanya aku kan mengertikan aku bahwa aku diciptakan disini untuk fastabiqul
khoirat .  Dan itu ku peroleh dengan membahagiakan sesama. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang di ajarkan kembali dengan baik? Bukankah pahala yang berarti itu adalah pahala yang bisa bermanfaat untuk orang lain?

Seperti halnya Imam dan makmum dalam sholat jamaah, mereka takkan dapat pahala lebih dalam sholat jika takdilakukan bersama. I remember if Sholah Jamaah, Twenty Seventh degree better than by self. Dan Seperti halnya para ulama dan ustadz ia takkan memperoleh pahala dan manfaat jika tauziah dan pengajiannya tidak ada majelis. Seperti itulah aku dilahirkan untuk mencari pahala yang mampu bermanfaat bagi orang lain, bagi sesama makhluk ciptaanNya.  Bukan hanya memperkaya (pahala) diri sendiri dengan Tilawah dijam kerja, sholat sunah dijam kerja sedangkan aku ditunggu kewajibanku.

Jikalau aku memperkaya(pahala) itu namun merugikan orang lain, menghambat rezeki dan jalan kebaikan orang lain, menunda pekerjaan dimana itu pekerjaan fatal untuk orang lain, Apakah aku yakin semua itu akan ada balasan yang sesuai? Ingat hidup ini untuk menemukan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Lantas AKu fikirkan ketika aku egois dan aku di Surga yang Tuhan janjikan namun aku sendirian. I am feel Alone. Tak tahu lagi aku mengartikan itu sebuah kebahagiaan atau hukuman keegoisanku.

Egoisku dalam Ibadahku
Jakarta, 2 Juni 2015

2 komentar:

Dihas Enrico mengatakan... Reply Comment

galau ngopo cah...?

Unknown mengatakan... Reply Comment

@Dihas Enrico: gak papa mas... lg belajar saja memahami sekitar mas...

Posting Komentar

Mohon masukan dan Semoga bermanfaat