Aku rancu akan keadaan sekitar kini. Melihat sekitarku seakan yang peduli padahal mereka berlari menghindari. Masih berkutat dengan kenyataan dan masalah jati diri, apakah aku yang salah atau mungkin aku tak bisa memahami? Lalu kucoba terus memahami namun alambawah sadar selalu berkata,”Ya sudahlah kamu sudah lakukan yang benar, biarkan yang lain begitu”. Perang batinpun terjadi.
Tak terlepas dari ucapan hatiku itu, Mungkin apa aku yang
kurang peduli? Atau aku malah tidak peduli? Ketika ku biarkan berarti ku
acuhkan. Ketika ku acuhkan berarti ku menghindar. Lalu siapa yang salah?
Kembali ke benar dan salah yang seharusnya aku tak persoalan karena benar dan
salah itu bukan di aku, namun Tuhan yang memutuskan. Jikapun aku mengatakan itu
mungkin itu hanya pendapat sepihakku saja.
Hidup ini memang sudah ada jalurnya, jalurnya baik. Aku
mengerti itu, jalur kehidupan itu baik. Jalur hidup itu sudah ditata rapi.
Tergantung aku apakah aku akan belok-belok padahal jalan tak berliku. Atau aku
akan menyenggol pembatas, pasti aku lecet dan terluka. Atau aku akan tabrak
pembatas itu yang mungkin aku akan mati.
Apakah hidup ini aku harus selalu peduli? Teringat dan
sangat suka sebuah kalimat, simple tetapi sangat dalam maknanya dan kalimat itu
yang selama ini aku cari, karena itu yang orang tua ajarkan padaku.
“Everything is Matter” Yaitu Segala sesuatu adalah hal
By Susi Pudjiastuti (Menteri)
Terlepas dari segala jabatan atau siapa beliau, kalimat itu
yang aku dengar dan aku mulai mengerti apa yang orang tua ajarkan padaku. Ketika
mereka membimbingku mereka pasti memperhatian hal detail meski kecil namun
sampai sekarang masih terbawa.
Semuanya adalah penting dan adalah hal. Mungkin ini tak
berefek untuk aku namun ini bisa jadi berefek untuk orang lain. Tak mampu aku
memahami semua itu dahulu, namun kini mengerti. Inginku terlepas. Mencoba acuh
namun tak bisa. Ingin ku melepaskan dan biarkan juga masabodoh, namun semua itu
sia-sia.
Aku mungkin dilahirkan untuk perduli, namun sesungguhnya
rasa perduli itu sakit. Contoh kecilku ketika aku mengingatkan yang lain untuk
hal terbaiknya baik kesopannan dan sikapnya yang memang itu tak baik. Namun
ditanggapi sebagai sindiran buat dia dan mungkin malah melihat aku sok paling
sopan atau apalah.
Aku melihat semua yang aku lakukan dari sekitar, Ada apa
disana, ada siapa disana dan ketika aku lakukan ini nanti apa efek buat ia.
Aku dengan rasa peduliku, Jakarta, 8 Juni 2015
http://resonansilensa.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat