Pukul
duabelas siang tepat. Ini waktuku rehat sejenak sebelum aku kembali kerutinitas
kerjaku. Lantunan lagu streaming aplikasi Guvera sejak tadi pagi di smartphoneku
sudah habis bersamaan dengan kumandangnya adzan dzuhur. Ya, masih terngiang
akan referensi bacaan novel fiksi dan fakta yang pernah aku baca dan review-review
film yang telah aku tonton tiba-tiba semua memutar ulang dalam memoriku hingga
aku terhanyut kedalam dunia fantasi dalam pikiranku.
Bukan
sebagai pencerita ulang maupun sebagai pendongeng handal layaknya Pak Raden
yang telah menghembuskan nafas terakhir dua hari yang lalu, dengan sejuta
kenangan indah anak-anak bangsa dari yang kini sudah mulai menua hingga masih
balita pada saat ini yang takjub akan dongeng-dongengannya, melainkan aku seperti
seorang anak kecil bernama Yu-Gi-Oh dalam serial anime yangberusaha dan berhasil
menyusun milenium puzzlenya untuk membuka sebuah dunia kegelapan yang telah
lama bersemayam dalam kalung yang dia pakai. Disini aku mulai menyusun tiap
rangkaian puzzle dari ceritah kehidupan nyata, cerita novel dan film yang
pernah masuk kedalam memoriku.
Tak
tahu mengapa mungkin ini salah satu juga alasan mengapa aku suka permainan
puzzle, film dengan penuh teka-teki untuk disusun, dan bacaan-bacaan yang fiksi
semi fakta atau fakta semi fiksi. Aku bukan seorang arkeolog, dan aku bukan
seorang insinyur teknik sipil yang berhasil membuat desain gedung pencakar
langit atau jembatan anti gempa. Yang mana Itu adalah beberapa mimpiku dahulu
yang bercita-cita seperti itu.
Where
that is my passion and my dream.
Mimpiku
adalah bekerja dari hobiku yang dibayar.
Namun apa daya kini hanya sebagai seorang penarik pajak yang mengompas dari
perusahaan dan penjagal pajak untuk
negara, konon begitu.
Konon
begitu?
Yes, right. Revenue collector is me but I dont
Know where money will go. To Corruptor or
it‘s true for an Indonesian People.
Ya
biarlah mau di apakan, yang harus aku kerjakan ya yang telah aku sumpahkan
dalam janjiku untuk memakai seragam ini.
Dalam
dunia fantasiku kembali, aku menyusun beberapa kata, kebiasaan dan fakta yang ada dalam
kisah-kisah itu. Bukan sebagai Sherlock
Holmes yang akan aku gunakan sebagai pemecahan suatu kasus atau menemukan
penjahat dan tersangka, namun sebagai diriku sendiri yang terperangkap dimasa
lalu. Siapa aku? Benarkah aku ciptaan yang sempurna dibanding ciptaanNYA yang
lain?
My feeling, my activity like a main actor an
cinema.
Seperti
lagunya Raisa bahwa aku adalah “Pemeran utama” atau malah hanya figuran yang sebagai pelengkap dalam film.
Namun
ketika aku sendiri seperti aku bisa merasakan kesendirianku diduna ini meskipun
mereka berlalu lalang ramai disekitarku dan ribut dengan kegilaan mereka. Disini sekan seperti aku, Aku disini adalah Jasad Tubuh ni, Udara disekitarku, dan roh yang ada dalam
tubuhku. Dan ketika aku melihat sekitar , ramai dengan kesibukan masing-masing. Aku tak tahu apa
yang mereka ributkan atau kerjakan dan fikirkan, tetapi kadang aku tahu apa
yang akan terjadi, apa yang akan mereka lakukan, dan secara dasar membaca sifat
mereka. Sekarang aku mulai berfikir sekarang aku pemeran utama dalam kehidupan
ini atau aku adalah figuran dari mereka.
My
feeling is so good. Right.
Aku tak sadar apa itu hanya kebetulan atau emang bwaaan dalam diriku. Apa yang
aku fikirkan dan prediksi sembilanpuluh persen benar sekalipun meleset dari
sepuluh konklusi mungkin dua saja yang tidak tepat. Hei, hei stop mungkin aku dianggap
sebagai peramal tetapi aku bukan sang peramal atau ahli nujum seperti waktu SD kisahnya Pak Belalang yang menebak
dimana belalang berada dan hanya dengan feeling nya dan sebuah kebetulan
ngawurnya menebak tepat dimana belalang itu berada ditangan kanan atau kiri
namun dia hanya menyeletuk disaku yang ternyata, benar. Disini aku hanya mengungkapkan apa yang harus
aku sampaikan dan pastinya untuk kebaikan orang lain. Namun mungkin ini salah
satu mimpi burukku, aku memeperhatikan untuk kebahagiaan orang lain tetapi
tidak untuk diriku.
Pernah
aku mengingatkan seseorang, lebih tepatnya mengkhawatirkan seseorang jika pergi
dengan orang itu yang baru kamu kenal kamu akan kena masalah, karena secara
tidak langsung orang itu juga baru aku kenal namun aku pernah mungkin membaca
referensinya secara tidak sengaja di facebook, twitter, komentar dia atau bertemu secara langsung namun dalam hal
tidak sadar mengetahui kelakuannya. Namun tak pernah aku diperdulikan nya. They
say, everything will be allright dont worry .
Namun
setelah selang beberapa waktu aku mendengar kabar kesedihannya. Ya sudahlah
biarkan saja tidak usah aku ungkit-ungkit peringatanku dan biarkan Ia belajar.
Mungkin jika mati lebih baik untuknya dari pada merasa kehilangan dan sesuatu
hilang darinya.
Ok,
I am only try to say something my opinion, no more.
Dan
ketika aku sadari mungkin memang aku hanya figuran yang tugasnya hanya
mempelajari dan mengingatkan, di dengarkan ya syukur tidak digubris ya I dont care. Dan yang pasti satu hal yang tidak aku
lakukan adalah iktu campur dalam masalah orang. Mungkin ini salah satu
keuntunganku juga menjadi tempat curhat teman-temanku, orang-orang bilang aku
hanya tempat sampah setelah digunakan ditinggal pergi, but i dont think like
a dustbin.
Disitu
aku bisa mempelajairi fenomena kehidupan yang sedang terjadi. Mungkin salah
satu anugrah juga untukku belajar bijak dalam menangani masalah, jadi mengapa
aku tidak masuk Jurusan Psikologi saja bisa jadi sarana konsultasi orang. Stop.
I don’t think to take that job, I will not.
Masalah-masalah
itu yang pernah aku dengarkan juga sebagian dari puzzle yang ingin aku susun
dalam dunia fantasiku antara kehidupan mereka, cerita dalam fiksi atau fakta
dan skenario film yang telah aku tonton.
Aku
pejamkan mata sejenak lalu aku ambil puzzle demi puzzle itu untuk menyusun
sebuah kesimpulan. Seperti menyusun seorang diriku yang telah terperangkap alam
skenario kehidupan ini. Krisis identitas?
Bukan, lebih tepatnya belajar untuk menjalani kehidupan. Dimana aku bisa
belajar kapan aku jadi pemeran utama atau menjadi seorang figuran. Aku hanya
ingin menjadi penyeimbang diantara sekelumit kehidupan fana ini. Lalu aku
beranjak dari dunia fantasiku dan ku basuh diriku dengan air wudlu.
Hidup
itu untuk memilih, menjadi pemeran utama atau figuran, Jakarta 2 November 2015
http://resonansilensa.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat