“Cuy, habis lari loe cuy? Belum
pake seragam.” Sapa dari balik tembok di ruangan kerja.
Aku dengan santainya
menjawab,”kagak bro, gerah aja AC dinyalain kedinginan, dimatiin pengab.”
Lalu suasana hening dan aku mulai
bersama lamunanku. Lari, Running, itu yang kini ada dibenak mereka akan
keberadaanku disini. Seakan aku tak pernah berhenti berlari. Tak pernah
berhenti lari dari kenyataan istilah mereka, yang mungkin memang sudah ditakdirkan padaku. Bukan
menyesali namun hanya merenungi.
Berlari adalah pelampiasan akan
emosiku, pelampiasan akan rasa yang tak sejalan dengan hati dan inginku. Namun
berlari adalah meditasiku. Meditasi dimana aku bisa mengosongkan fikiranku
untuk membawaku kealam bawah sadar
hingga aku bisa menemukan jawaban-jawaban yang berselimut didalam Cerebrum
dan Cerebellum ku. Yang tersumbat akan lemak-lemak yang berada dalam aliran
peredaran darahku hingga membuatku buntu akan jalan keluar semua fenomena
masalahku.
Berlari dan aku terus berlari.
Berlari bukan untuk mengejar mimpi. Aku berlari untuk berdiam diri menemukan
jatidiri. Aku berlari mencari inspirasi yang terkubur bersama emosi yang selalu
menghantui. Mungkin mereka menganggapku orang gila dan musrik, setahu mereka berdiam
diri itu ya di masjid, I’tikaf dan menangis merenungi nasib. But, Stop! I
cannot do that. Itu kalian dan bukan aku, ada cara ku menemukan diriku dengan
Sang Rabb. Jika kalian menganggapku gila
beri’tikaf sambil berlari lantas apakah kalian menganggap mereka juga gila ketika mereka berdoa sambil menangis dimalam
hari lalu siang hari kesalahan mereka ulangi?
Aku bertemu dengan Tuhanku dengan
caraku dan kalian bertemu Tuhan kalian dengan cara kalian, karena aku disini
berdiri diatas langit ciptaan Tuhanku, Allah SWT. Semua tempat ini suci dan
semua tempat ini adalah miliknya. Dan ketika aku berlari aku mampu menyadari
diri ini betapa tiada artinya hidup ini ketika aku sadari antara diriku dan
alam ciptaanNYA.
Banyak kuasa dan peringatanNYA di jalan yang aku telusuri.
Ketika dihadapanku dihadang batu besar,
dengan mudahnya aku tahu dan mudah menghindar namun ketika kerikil kecil
didepanku, aku tak tahu dan aku terpeleset karenanya, maka Allah SWT
mengabarkanku bahwa kadang masalah bukan hanya nampak besar saja namun hal
kecilpun mampu menjatuhkanku.
“Ya Allah, pertanda apa yang kau ingin kabarkan padaku?
Apakah kerikil ini sebagai tanda dariMu
bahwasanya ia takkan ada didepanku kecuali kehendakMu untuk memperingatkanku,
Ihdinassirratall mustaqim, ya Rabb.”
Dan ketika aku berdiri diatas
jembatan layang Jalan Toll, aku saksikan sepintas beberapa penjual asongan
berjualan, ada yang di pinggir dan ada yang ditengah jalan karena macetnya
jalan, namun seketika terjadi kecelakaan dan ternyata yang tertabrak adalah ia
yang berjualan dipinggir. Berita apa yang akan disampaikanNYA.
“Ya Rabb, sungguh kuasaMu,
TakdirMu, jika Engkau tak berkehendak sekalipun orang itu terlentang ditengah jalan ia tak kan Mati dan
ketika Kau berkehendak lain, seusaha apapun ia berlindung di Banker yang tak
tembus apapun Ia akan mati juga, dan semua itu adalah sesuai amalan yang kami
perbuatan. Dan sesungguhnya Aku yakin bahwa semua kehendakMu adalah baik dan
kami yang memilih takdir itu apakah kami terima kebaikanMu atau kami abaikan.”
Lalu aku berlari dan terus berlari
sampai aku kembali dan berhenti dan aku nikmati kucuran keringat ini terlepas
perlahan jatuh ke bumi, dan aku temukan beberapa jawaban dan Clue-clue dalam
jalan hidupku. Satu jawaban yang pasti terbayang adalah “SYUKUR”. Menerima
semua kenyataan ini bahwa semua ini nikmat. Nikmat adalah Nikmat, dan Cobaan
adalah Nikmat (yang tertunda) .
Dan itulah aku berlari dari awal
langkah aku menapakkan kakiku memulainya dan aku akhiri dengan penutup langkah
dengan rasa syukur, “Alhamdulillah”.
Berlari ku untuk menemukanMU, Jakarta
30 Oktober 2015


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat