Peribahasa dahulu adalah sebuah lantunan kata-kata yang terangkai dalam sebuah kalimat yang mengandung arti tertentu. Peribahasa adalah ibarat, dan itu semua adalah perumpamaan. Dahulu Peribahasa sering dipakai bahkan aku sering melontarkan pula.
Namun lambat laun kini peribahasa jarang aku gunakan, bahkan jarang aku dengar. Karena jaman sekarang yang ku tahu dan ku rasakan seperti hidup lebih individualis, bahkan egois terkalahkan. Akupun tak mengerti mengapa semua ini memudar. Apakah perkembangan zaman? atau perkembangan keparat diri individu yang mencari kepuasan diri?
Ah aku tak perduli. Terserah mereka sajalah dan aku tetap menjadi diriku.
hmmm... perkataanku ternyata salah satu egoisme yang aku bingungkan itu. Demi diriku sendiri aku tak perduli dengan mereka. Namun apakah dengan perduliku mereka akan perduli padaku? oh tentu tidak. itu hanya Bullshit! Pembual ! dan omong kosong oleh mereka yang mengeruk keuntungan dari diriku.
Ibarat aku hanya pemanfaatan, namun aku lebih senang dimanfaatkan. Karena aku akan berarti bagi mereka. Aku akan ada disetiap jilatan-jilatan kelakuan mereka hingga mereka mampu menembus dan memiliki mimpi mereka, lalu mereka tak ingat lagi rasa yang mereka jilat itu dari mana.
Sering sudah aku dikecewakan, sering sudah aku di buang. Bukan karena kecewa dan dibuang, namun karena seakan ku tak berarti apa-apa.
Kalian tahu tanah yang kalian pijak itu? itu aku dahulu yang memijak tanah itu hingga kalian bisa berdiri diatasnya tanpa duri yang bisa membunuhmu.
Kalian tahu Pohon itu mengapa ada disana? karena aku yang menanamnya agar ia rindang dan berbuah lebat. Hingga suatu saat kau akan memetiknya buah itu, kau akan berteduh dibawahnya dan kau akan tertidur pulas dibawahnya, hingga ada orang lewat datang dan menyapamu.
"Wah... Hebat betul kau menanam pohon itu, buahnya lebat, sejuk rindang, tanahmu tak berduri ditumbuhi rumput nan bersih... Kau pasti menanamnya dengan bersungguh-sungguh, dengan ketulusan hati dan dengan sekuat tenagamu. aku salut dan kau adalah Orang yang terbaik yang aku pilih, terimalah hadiahku ini"
Dan kaupun menerimannya seakan kau yang melakukan semua. Aku pun hanya melihat dan terdiam, tak mampuku berkutik dan harus ku relakan. Biarkan ia menikmati sampai mati, sampai pohon dan semua itu membunuhnya! dasar kau Pengusik!
Kaupun jual buah-buahku dan kau pun nikmati jerih payahku. namun Tuhan mengajarkanku keikhlasan, Tuhan mengajarkanku arti kerendahan. Karena harusnya aku sadari, bahwa aku bukanlah Gajah yang mati meninggalkan Gading. Aku adalah Seekor gajah yang dungu yang diam akan melihat keserakahan orang lain.
Hai Pengusik! Sadarlah kau sebelum orang pendahulumu, Aku! Aku! hingga kau berani mengatakan bahwa aku kini tak melakukan sesuatu yang berarti? sesuatu yang bersungguh-sungguh sampai rela aku mati? Kau katakan ketika aku disini aku tak sepenuh hati dan aku harus dibuang jauh mencari peta-peta baru menjelajah nusantara ini?
Liat kananmu, liat kiri mu.... Itu aku, itu aku yang memulainya, itu aku yang merawatnya dan itu aku yang menyediakan buah-buah yang kau makan itu dari keringat dan separuh nafasku. Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi ditanah itu hingga kini aku hanya seonggok harapan yang tiada bertuan. Aku hanya melambai dan menjerit dibalik dedaunan kering dan menunggu angin kemana kan menerpaku.
Namun, lihatlah aku, aku disini kan pergi dengan penuh tangis kehilangan. Mereka yang tahu aku akan menangis dan sedih terlarut, sedangkan kau. Belum pergi sudah mereka berharap kepergianmu dengan tawa riang tanpa arti apapun. inilah aku dimana Tanah kuinjak disitu kan langit ku junjung. Dimana aku kan berpijak disitu mereka menantiku.
Dan kau kan selalu berambisi menjual buah-buah jerih payahku, mengalirkan egoismemu dan kau kan terus menjual ambisimu yang membutakanmu mencari kepayahanmu sendiri. Kau memantaskan dirimu dan kau tak pernah pantas disitu.
Aku adalah orang yang kalian rindukan, Jakarta, 08 September 2015
http://resonansilensa.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat