Gagal….
Itu yang tergambar dalam benakku.
Di kecewakan takdir dan harapan yang tinggi. Karena kesombonganku mungkin. Terlalu Percaya diri, bisa jadi pula
aku ini. Angkuh dan tak bisa mempercayai dan meyakini nurani ini. Tak bisa
mengartikan peringatan dan membedakan mana cobaan mana nikmat.
Bodoh, sungguh mengecewakan. Aku
kecewa dengan diriku yang selama ini tak bisa menyadari maksud dan tujuan Tuhan
memberikan nikmat dan cobaan ini. Ini yang disebut penyesalan. Menyesal namun
juga kesal. Kesal dan tandaku kurang bersyukur.
Namun betapa besar sayangnya
Tuhan terhadapku dengan memberikanku Peringatan dan pelajaran. Jika tak begini
mungkin aku akan melewati batas garis
lurus. Aku akan menjadi Garis tegak lurus , jikalau aku tidak mendapatkan
rasa penyesalan itu. Aku gagal dan aku kecewa. Namun kini aku sadari, aku
berhasil dan aku bersyukur.
Aku gagal dan aku kecewa, Kini
aku berhasil dan aku bersyukur. Aku gagal dalam meraih harapan satu-satunya
yang aku landaskan sepenuhnya kepada harapan ini, hingga apapun aku lakukan
sekuat tenagaku, semampuku dan aku bersungguh-sungguh serta bertawakal, lalu
ketika harapan itu menghilang pergi
tanpa adanya keseimbangan usahaku, aku kecewa. Kecewa dengan diriku, kecewa
dengan usahaku, kecewa mengapa yang lain yang mungkin tak sesungguh diriku mendapat harapan itu.
Aku Jatuh dan aku putus asa. Aku
kecewa takdir ini, aku mengeluh dan aku mati. Mati akan harapan.
Gagal-gagal dan gagal. Mereka selalu menyebut kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, lantas kapan berhasilku? Apakah aku harus seperti mereka yang hanya modal keberuntungan hingga lebih berhasil daripada kesungguhanku.
Aku menyimpulkan,
“Kecerobohan adalah pangkal keberhasilan dan keberanian pangkal kegagalan” aku sampai menyimpulkan seperti itu karena aku yakin mereka lebih ceroboh dibanding aku tetapi mereka lebih berhasil daripadaku.
“Kecerobohan adalah pangkal keberhasilan dan keberanian pangkal kegagalan” aku sampai menyimpulkan seperti itu karena aku yakin mereka lebih ceroboh dibanding aku tetapi mereka lebih berhasil daripadaku.
Berubah…. Kurubah……Mengubah
SADAR! Kini kusadari! Kuucap Astagfirullahaladzim,,,,,
Ini, ini maksud Tuhan menganugrahiku
kegagalan, Kegagalan adalah Anugrah??? Frustasikah aku? Menyebut kegagalan
adalaha anugrah. Tidak, namun ini yang menyadarkanku.
Seperti halnya yang aku gemari
dari keseharianku, mempelajari sifat
seseorang, kelakuan seseorang, baik dengan metode deduksiku maupun metode Antonim
yang aku gunakan. Aku dari sini menyadari sikapku. Jikapun aku mendapatkan
harapanku yang hilang dan Tuhan memberikan selalu apa yang aku mau, Aku
pastikan bersyukur dan tentu itu dilakukan semua orang, aku yakin yang
dilakukan semua orang jika berhasil pasti bersyukur, sebaliknya Malahan jarang aku melihat
orang berhasil dan sombong karena keberhasilannya.
Point dari Tuhan berikan kepadaku
kali ini bukan masalah kesombongan atau berlebih-lebihan, namun dari sisi
bagaimana aku menghargai hati dan perasaan orang lain. Secara tidak sadar
ketika aku berhasil mungkin aku akan bersyukur dan aku akan melampiaskan syukur
itu dimana-mana. Itu hakikatku, ketika tak sadar, dan ternyata semua itu akan
menyakitkan hati orang lain yang seperjuangan menggapai harapan itu. Tuhan
memperingatiku akan hal itu. Ternyata itu sakit dan sungguh bisa menimbulkan
penyakit hati bagi yang lain. Iri dan akhirnya kebencianpun hadir. Benci adalah
awal kehancuran. Obat hati memang banyak tetapi kekecewaan sulit diobati.
Bukan masalah siapa yang menyakiti
atau disakiti, namun masalahnya dimana usaha dan kesungguhan yang dilakukan tersakiti daripada yang
menyakiti (orang lain). Sungguh memang seakan dunia ini tak adil. Tuhan memang tak adil pada
awalnya. Selama ini yang aku pegang layaknya akan pepatah,
“ Sopo sing nandur bakal ngunduh”
Siapa yang menanam bakal menuai,
artinya jika kita niat menanam padi ya kita dapat padi tetapi ketika kita
menanam rumput akan tumbuh rumput,
Namun kali ini dia yang menanam
rumput menuai padi. Yang menanam padi menuai rumput. Apakah tertukar? Sebelum kusadari aku memaki diriku sendiri
dan menyalahkan Tuhan bahwa ini tertukar dan tak sesuai. Namun setelah kusadari
mungkin yang kutanam padi ini memang padi, dan bukan rumput. Bisa jadi ini adalah
padi yang tumbuhnya lebih lama dan berbijih enak, besar dan lebih bernutrisi , bermanfaat bagi
orang banyak, daripada rumput yang tumbuh padi mungkin ituchanyacsementara dan
untuknya sendiri(yang menanam), atau bisa jadi padinya itu dari padiku dan berarti aku
memberikan berkah untuknya agar ia bisa menikmati padi ku juga dan menikmati
betapa enaknya padi itu.
Syukur dan ikhlas harus
kujalankan. Semua sudah digariskan dan garis itu lururs, semua ditujukan ke
keIndahan tak ada sedikitpun rencana Tuhan menuju keburukan bagi HambaNya. Aku
belajar ikhlas, aku belajar syukur karena
semua ini harus ku pahami .Tak pernah ada yang tertukar nikmatNya, tak
pernah ada kesalahan dalam TimbanganNya. Aku dan egoku, hatiku, jiwa dan
ragaku.
Kegagalanku adalah
Keberhasilanku, Jatisrono, 1 September 2015


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat