RSS

Friends

Pengalaman adalah sebuah Pelajaran berharga yang akan
diceritakan menjadi sebuah kenangan Indah

Ketika Kegagalan itu ternyata Keberhasilan (Ilmu Ikhlas)



Gagal….

Itu yang tergambar dalam benakku. Di kecewakan takdir dan harapan yang tinggi. Karena kesombonganku  mungkin. Terlalu Percaya diri, bisa jadi pula aku ini. Angkuh dan tak bisa mempercayai dan meyakini nurani ini. Tak bisa mengartikan peringatan dan membedakan mana cobaan mana nikmat.


Bodoh, sungguh mengecewakan. Aku kecewa dengan diriku yang selama ini tak bisa menyadari maksud dan tujuan Tuhan memberikan nikmat dan cobaan ini. Ini yang disebut penyesalan. Menyesal namun juga kesal. Kesal dan tandaku kurang bersyukur.

Namun betapa besar sayangnya Tuhan terhadapku dengan memberikanku Peringatan dan pelajaran. Jika tak begini mungkin aku akan melewati batas garis  lurus. Aku akan menjadi Garis tegak lurus , jikalau aku tidak mendapatkan rasa penyesalan itu. Aku gagal dan aku kecewa. Namun kini aku sadari, aku berhasil dan aku bersyukur.

Aku gagal dan aku kecewa, Kini aku berhasil dan aku bersyukur. Aku gagal dalam meraih harapan satu-satunya yang aku landaskan sepenuhnya kepada harapan ini, hingga apapun aku lakukan sekuat tenagaku, semampuku dan aku bersungguh-sungguh serta bertawakal, lalu ketika harapan itu menghilang pergi  tanpa adanya keseimbangan usahaku, aku kecewa. Kecewa dengan diriku, kecewa dengan usahaku, kecewa mengapa yang lain yang mungkin tak sesungguh diriku mendapat harapan itu.

Aku Jatuh dan aku putus asa. Aku kecewa takdir ini, aku mengeluh dan aku mati. Mati akan harapan.

Gagal-gagal dan gagal. Mereka selalu menyebut kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, lantas kapan berhasilku? Apakah aku harus seperti mereka yang hanya modal keberuntungan hingga lebih berhasil daripada kesungguhanku.

Aku menyimpulkan,
“Kecerobohan adalah pangkal keberhasilan dan keberanian pangkal kegagalan” aku sampai menyimpulkan seperti itu karena aku yakin mereka lebih ceroboh dibanding aku tetapi mereka lebih berhasil daripadaku.

Berubah…. Kurubah……Mengubah SADAR! Kini kusadari! Kuucap Astagfirullahaladzim,,,,,
Ini, ini maksud Tuhan menganugrahiku kegagalan, Kegagalan adalah Anugrah??? Frustasikah aku? Menyebut kegagalan adalaha anugrah. Tidak, namun ini yang menyadarkanku.

Seperti halnya yang aku gemari dari keseharianku, mempelajari  sifat seseorang, kelakuan seseorang, baik dengan metode deduksiku maupun metode Antonim yang aku gunakan. Aku dari sini menyadari sikapku. Jikapun aku mendapatkan harapanku yang hilang dan Tuhan memberikan selalu apa yang aku mau, Aku pastikan bersyukur dan tentu itu dilakukan semua orang, aku yakin yang dilakukan semua orang jika berhasil pasti bersyukur, sebaliknya Malahan jarang aku melihat orang berhasil dan sombong karena keberhasilannya.

Point dari Tuhan berikan kepadaku kali ini bukan masalah kesombongan atau berlebih-lebihan, namun dari sisi bagaimana aku menghargai hati dan perasaan orang lain. Secara tidak sadar ketika aku berhasil mungkin aku akan bersyukur dan aku akan melampiaskan syukur itu dimana-mana. Itu hakikatku, ketika tak sadar, dan ternyata semua itu akan menyakitkan hati orang lain yang seperjuangan menggapai harapan itu. Tuhan memperingatiku akan hal itu. Ternyata itu sakit dan sungguh bisa menimbulkan penyakit hati bagi yang lain. Iri dan akhirnya kebencianpun hadir. Benci adalah awal kehancuran. Obat hati memang banyak tetapi kekecewaan sulit diobati.

Bukan masalah siapa yang menyakiti atau disakiti, namun masalahnya dimana usaha dan kesungguhan yang dilakukan tersakiti daripada yang menyakiti (orang lain). Sungguh memang seakan dunia ini tak adil. Tuhan memang tak adil pada awalnya.  Selama ini yang aku pegang layaknya akan pepatah,

“ Sopo sing nandur bakal ngunduh”

Siapa yang menanam bakal menuai, artinya jika kita niat menanam padi ya kita dapat padi tetapi ketika kita menanam rumput  akan tumbuh rumput,

Namun kali ini dia yang menanam rumput menuai padi. Yang menanam padi menuai rumput. Apakah tertukar?  Sebelum kusadari aku memaki diriku sendiri dan menyalahkan Tuhan bahwa ini tertukar dan tak sesuai. Namun setelah kusadari mungkin yang kutanam padi ini memang padi, dan bukan rumput. Bisa jadi ini adalah padi yang tumbuhnya lebih lama dan berbijih enak, besar dan lebih bernutrisi , bermanfaat bagi orang banyak, daripada rumput yang tumbuh padi mungkin ituchanyacsementara dan untuknya sendiri(yang menanam), atau bisa jadi padinya itu dari padiku dan berarti aku memberikan berkah untuknya agar ia bisa menikmati padi ku juga dan menikmati betapa enaknya padi itu.

Syukur dan ikhlas harus kujalankan. Semua sudah digariskan dan garis itu lururs, semua ditujukan ke keIndahan tak ada sedikitpun rencana Tuhan menuju keburukan bagi HambaNya. Aku belajar ikhlas, aku belajar syukur karena  semua ini harus ku pahami .Tak pernah ada yang tertukar nikmatNya, tak pernah ada kesalahan dalam TimbanganNya. Aku dan egoku, hatiku, jiwa dan ragaku.

Kegagalanku adalah Keberhasilanku, Jatisrono, 1 September 2015


0 komentar:

Posting Komentar

Mohon masukan dan Semoga bermanfaat