Merenung…..
Merenung atau melamun ah sama
saja bagiku, ujung-ujungnya hampa fikiran tanpa batas. Tanpa tujuan dan arah
yang hilang bersama terbawanya suasana. Aku tak mengerti akan tiap langkah ini,
apakah ini yang disebut meratapi? Meratapi takdir yang mengalir karena ulah
yang aku gulirkan di alur hidupku sendiri.
Meratapi menggambarkan aku yang
tiada bersyukur dan menghadirkan rasa ikhlasku akan anugerah dan nikmat yang
terbungkus dalam cobaan. Cobaan adalah
nikmat dan Nikmat adalah cobaan, mungkin aku tak tahu maksud ungkapan itu. Dan
aku sadari setelah nikmat itu menjadi cobaan yang membawaku ke ruang kehampaan.
Maju, mundur, kanan, kiri,….
Next, what?
kaki ini melangkah dalam satu
tahapan penuh keraguan, hingga akhirnya terdiam dan tak bergerak. Seakan
disekitarku penuh dengan lubang yang
didalamnya penuh dengan duri yang tajam. Bahkan belum menginjakpun sudah
terasa sakitnya. Itulah yang disebut ketakutan. Ketakutan akan imajinasi yang
aku buat sendiri hingga aku ragu untuk melangkah.
Lantas apakah aku harus diam?
Lalu apakah aku hanya bisa diam? Kembali ketika aku harus memilih. Pilihan
adalah resiko dan resiko adalah tanggungjawab. Aku harus memilih dan menyadari
tidak ada pilihan dan langkah yang tidak ada resiko.
Mungkin kanan, kiri dan
belakangku ada duri yang tajam dan pasti sakit ketikaku menginjak. Namun jika
aku melangkah maju belum tentu aku akan baik-baik saja, bisa saja kakiku
terkilir karena begitu berhati-hatinya aku melangkah dan aku lupa bagaimana
caranya melangkah.
Atau aku memilih hanya
menari-nari disepetak kehidupanku untuk menghibur orang yang melewatiku tanpa aku harus memberikan
yang berarti bagi diriku sendiri.
Aku tak bisa hidup dalam diam,
dan aku harus mencoba tetap melangkah. Harus aku yakini jikapun duri itu nanti
menancap dikakiku dalam langkahku. Aku akan cabut dan biarkan darah menetes
untuk sekejap lalu aku kan terus melangkah hingga rasa sakit itu hilang dan
membekas luka. Aku kan mengingat dimana duri itu berada, aku akan mengingat
seperti apa duri itu, namun aku tak akan dendam atau membencinya karena Ia
hanyalah segelintir hakikat kehidupan yang mungkin keberadaannya terbawa angin
yang ia tak tahu angin itu akan membawanya kemana.
Duri itu mungkin tak ingin
menancap dikakiku karena ia hanya
terbawa angin atau duri itu memang sengaja berada disitu untuk melukaiku. Ah
biarlah aku akan terus melangkah. Duri tetaplah duri yang menyakitkan kalau
terinjak. Kujalani setapak demi setapak hingga aku berada di pintu Gerbang yang
tinggi dan besar berlapis emas. Tak tahu
apa didalamnya dan aku kembali terdiam.
Selalu ada Maaf dibalik sema kesalahan, Jakarta 06 Agustus 2015
http://resonansilensa.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar
Mohon masukan dan Semoga bermanfaat