RSS

Friends

Pengalaman adalah sebuah Pelajaran berharga yang akan
diceritakan menjadi sebuah kenangan Indah

Itu Bukan Salah Aku, Kamu, Dia, Kita, Kami atau Mereka



Merenung…..

Merenung atau melamun ah sama saja bagiku, ujung-ujungnya hampa fikiran tanpa batas. Tanpa tujuan dan arah yang hilang bersama terbawanya suasana. Aku tak mengerti akan tiap langkah ini, apakah ini yang disebut meratapi? Meratapi takdir yang mengalir karena ulah yang aku gulirkan di alur hidupku sendiri.


Meratapi menggambarkan aku yang tiada bersyukur dan menghadirkan rasa ikhlasku akan anugerah dan nikmat yang terbungkus  dalam cobaan. Cobaan adalah nikmat dan Nikmat adalah cobaan, mungkin aku tak tahu maksud ungkapan itu. Dan aku sadari setelah nikmat itu menjadi cobaan yang membawaku ke ruang kehampaan.

Maju, mundur, kanan, kiri,…. Next, what?

kaki ini melangkah dalam satu tahapan penuh keraguan, hingga akhirnya terdiam dan tak bergerak. Seakan disekitarku penuh dengan lubang yang  didalamnya penuh dengan duri yang tajam. Bahkan belum menginjakpun sudah terasa sakitnya. Itulah yang disebut ketakutan. Ketakutan akan imajinasi yang aku buat sendiri hingga aku ragu untuk melangkah.

Lantas apakah aku harus diam? Lalu apakah aku hanya bisa diam? Kembali ketika aku harus memilih. Pilihan adalah resiko dan resiko adalah tanggungjawab. Aku harus memilih dan menyadari tidak ada pilihan dan langkah yang tidak ada resiko. 

Mungkin kanan, kiri dan belakangku ada duri yang tajam dan pasti sakit ketikaku menginjak. Namun jika aku melangkah maju belum tentu aku akan baik-baik saja, bisa saja kakiku terkilir karena begitu berhati-hatinya aku melangkah dan aku lupa bagaimana caranya melangkah.

Atau aku memilih hanya menari-nari disepetak kehidupanku untuk menghibur orang  yang melewatiku tanpa aku harus memberikan yang berarti bagi diriku sendiri.

Aku tak bisa hidup dalam diam, dan aku harus mencoba tetap melangkah. Harus aku yakini jikapun duri itu nanti menancap dikakiku dalam langkahku. Aku akan cabut dan biarkan darah menetes untuk sekejap lalu aku kan terus melangkah hingga rasa sakit itu hilang dan membekas luka. Aku kan mengingat dimana duri itu berada, aku akan mengingat seperti apa duri itu, namun aku tak akan dendam atau membencinya karena Ia hanyalah segelintir hakikat kehidupan yang mungkin keberadaannya terbawa angin yang ia tak tahu angin itu akan membawanya kemana.


Duri itu mungkin tak ingin menancap dikakiku  karena ia hanya terbawa angin atau duri itu memang sengaja berada disitu untuk melukaiku. Ah biarlah aku akan terus melangkah. Duri tetaplah duri yang menyakitkan kalau terinjak. Kujalani setapak demi setapak hingga aku berada di pintu Gerbang yang tinggi dan besar berlapis emas.  Tak tahu apa didalamnya dan aku kembali terdiam.

Selalu ada Maaf dibalik sema kesalahan, Jakarta 06 Agustus 2015
http://resonansilensa.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon masukan dan Semoga bermanfaat