RSS

Friends

Pengalaman adalah sebuah Pelajaran berharga yang akan
diceritakan menjadi sebuah kenangan Indah

Setitik Noda yang Suci



Pluralisme, membawa aku dalam analogi kehidupan penuh resonansi warna dan gradasi situasi. Pluralisme tak mampu membawa aku dalam kehidupan individual dan keegoisme diri sendiri. Bahkan pluralisme membawa aku semakin berarti dan memiliki identitas jiwa dan hati.


QS Al Baqarah (2) : 62

2:62

Sahih International
Indeed, those who believed and those who were Jews or Christians or Sabeans [before Prophet Muhammad] - those [among them] who believed in Allah and the Last Day and did righteousness - will have their reward with their Lord, and no fear will there be concerning them, nor will they grieve.
“Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”

Aku hanyalah serangkaian tulang belulang yang disambung sendi digerakkan urat dan dibalut gumpalan daging ditiupkan sedikit rasa melalui saraf dan diberikan emosi pada pikiran dan rasa murni dihati.  rangkaian itu diberi hembusan Nyawa dan Ruh yang akan menerima ganjaran diwaktu nanti. Lalu buat apa aku menghakimi diri dan ciptaanNya jika aku hanya balutan tak berarti  bagiNya.

Aku berfikir dan dikendalikan egoisme yang membawa diri ku paling benar. 
Apakah semua itu memang Benar? 
apakah aku menciptakan kebenaran itu? 
apakah aku itu yang menulis kebenaran ku hingga aku menjudge aku yang benar? 
lalu kemana yang salah? siapa yang menilai salah?
memang tiada bisa mengendalikan diri kecuali ada ke ikhlasan dan kepercayaan kepadaNya. Karena Dia adalah Hakim Maha Hakim. 

Tak semua noda itu kotor, noda adalah bercak. bercak adalah noda lantas apakah suci itu putih? atau putih itu suci? bisa aku anggap bersih itu putih namun apakah hitam polos itu kotor?. Aku sesungguhnya tak mampu memberi kebenaran namun Aku memaksakan kebenaran itu. Dan aku tak sadar bahwa yang ku anggap noda itu adalah lebih suci dari ku.

Intropeksi siapa aku itu. lalu akupun akan lari dari kenyataan itu.  Akupun lari akan kesadaran yang sesungguhnya kebenaran menyudutkanku dalam keegoisanku. dan ketika aku lari aku berusaha mencari kebenaran dimana sesungguhnya kebenaran itu ada dihati. Bukan kebenaran itu dari teori maupun cerita turun temurun yang terlogika oleh hati dan hipo ku itu sendiri.

masihkah aku akan tetap menjadi hakim? 
masihkah aku bertindak semau sendiri dan kebenaran itu nyata aku anggap teori cermin dari diri ku? 
tak ada bunga yang akhirnya layu karena tak ada kelayuan itu sebelum kesegaran. Aku dan semua sama meski keyakinan berbeda biarkan Ia yang memberikan nilai di akhir hayat kita.


Pemahaman hati Pluralisme,
My Office Jakarta, 13 Agustus 2014
http://resonansilensa.blogspot.com


0 komentar:

Posting Komentar

Mohon masukan dan Semoga bermanfaat